Risiko Wabah Chikungunya di Masyarakat
Risiko Wabah Chikungunya di Masyarakat
Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau Aedes Albopictus. Chikungunya disebabkan oleh infeksi virus yang bernama Chikungunya (CHIKV). Virus ini tidak dapat menyebar secara langsung antarmanusia, melainkan ditularkan oleh dua jenis nyamuk, yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penularan chikungunya terjadi apabila nyamuk menggigit orang yang terinfeksi chikungunya, kemudian membawa virus tersebut dan menyebarkannya kepada orang lain melalui gigitan. Penyakit ini disebut juga dengan flu tulang karena menyebabkan demam dan nyeri tak tertahankan pada sendi. Mayoritas orang yang terinfeksi chikungunya memiliki gejala yang sama, tetapi beberapa diantaranya tidak menunjukkan gejala. Gejala chikungunya akan muncul pada 3-7 hari setelah gigitan pertama dari nyamuk yang terinfeksi. Gejala awal chikungunya adalah demam tinggi mencapai 39 derajat. Demam tersebut kemudian diikuti oleh gejala lainnya seperti nyeri sendi, mual dan muntah, nyeri kepala, nyeri otot, dan radang sendi. Mayoritas pengidap chikungunya akan kembali pulih setelah 1-2 minggu.
Penyakit virus Chikungunya telah menyebabkan banyak epidemi di Afrika dan Asia. Pada tahun 2005-2006 wabah besar terjadi di Samudera Hindia. Kasus impor ditemukan di Asia, Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan benua Eropa. Pada tahun 2007, wabah infeksi virus chikungunya asli terjadi untuk pertama kalinya di Eropa (Italia). Pada tahun 2010 dan 2014, kasus autochthonous dilaporkan di Perancis. Pada bulan Desember 2013, chikungunya muncul di Karibia dan menyebar dengan cepat di Amerika. Kini virus tersebut telah menyebar ke seluruh wilayah (sub) tropis Amerika, Afrika, dan Asia.
Penyakit ini sering muncul di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, dan dapat menyebabkan dampak signifikan pada kesehatan masyarakat, ekonomi, dan kehidupan sosial. Wabah chikungunya dapat memperparah sistem kesehatan lokal dengan meningkatnya jumlah pasien yang memerlukan perawatan dan menurunkan produktivitas pekerja yang terinfeksi. Selain itu, kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk, seperti genangan air, iklim tropis yang hangat dan lembap, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap langkah-langkah pencegahan dapat memperburuk situasi di masyarakat.
Untuk mengendalikan risiko wabah chikungunya, diperlukan upaya-upaya yang meliputi pemberantasan sarang nyamuk, penyuluhan masyarakat, dan peningkatan kapasitas sistem kesehatan. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan membersihkan genangan air dan memastikan drainase yang baik, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara-cara mencegah gigitan nyamuk adalah langkah-langkah penting dalam pencegahan, melaporkan kasus chikungunya secara cepat dan memberikan perawatan medis yang tepat kepada warga yang terinfeksi juga merupakan bagian dari strategi pengendalian. Selain itu, Keterlibatan berbagai pihak termasuk kesehatan, lingkungan, dan pendidikan, juga diperlukan untuk mengimplementasikan upaya-upaya tadi supaya terlaksana dengan efektif.
Modal Sosial Budaya dalam Pengendalian Risiko Wabah Chikungunya di Masyarakat
Modal sosial budaya penting dalam pengendalian wabah chikungunya di masyarakar khususnya masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia dikenal dengan budaya gotong royong, yaitu semangat kebersamaan dan kerja sama dalam menangani masalah bersama. Modal sosial ini dapat dimanfaatkan dalam upaya pencegahan dan pengendalian wabah chikungunya. Misalnya, melalui kerja bakti membersihkan lingkungan dari genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes. Modal sosial rasa gotong royong ini juga dapat memperkuat jaringan sosial yang mendukung penyebaran informasi dan edukasi tentang pencegahan penyakit secara cepat dan efektif. Selain itu, Di berbagai daerah di Indonesia, terdapat kearifan lokal yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyebaran chikungunya. Misalnya, penggunaan tanaman pengusir nyamuk seperti serai atau lavender yang sudah lama dikenal dalam budaya masyarakat setempat. Selain itu, praktik-praktik tradisional dalam menjaga kebersihan lingkungan dan pengelolaan air juga dapat mendukung upaya pencegahan wabah. Kearifan lokal ini bisa menjadi modal penting dalam mengedukasi masyarakat dengan cara yang tradisional dan mudah diterima masyarakat. Dengan memanfaatkan modal sosial budaya ini, upaya pencegahan dan pengendalian chikungunya dapat dilakukan secara lebih efektif dan menyeluruh dalam lapisan masyarakat yang lebih luas.
Analisis Risiko Wabah Chikungunya di Masyarakat
1. Identifikasi
Resiko : Wabah Chikungunya
· Penyebab : Chikungunya adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus Chikungunya yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus.
·
Gejala : Demam dan nyeri sendi
· Lokasi : Sering terjadi di Indonesia, terutama
di daerah tropis dan subtropis
· Dampak : Gangguan dalam aktivitas sehari-hari,
termasuk pendidikan dan kegiatan sosial, karena tingginya angka kesakitan. Chikungunya
menyebabkan nyeri sendi yang parah dan berkepanjangan, yang dapat mengurangi
kualitas hidup dan produktivitas individu.
2. Pengendalian Risiko
- Keterlibatan berbagai pihak dengan cara meningkatkan koordinasi di berbagai bidang seperti kesehatan, lingkungan, dan pendidikan untuk mengimplementasikan strategi pengendalian yang efektif.
- Melaporkan kasus chikungunya kepada Dinas Kesehatan setempat
- Melakukan fogging segera setelah kasus chikungunya teridentifikasi
3. Pemulihan
Risiko
- Menyediakan
perawatan medis atau perawatan lanjutan bagi pasien yang mengalami nyeri sendi
berkepanjangan
- Mendukung
rehabilitasi warga yang terkena chikungunya untuk kembali ke aktivitas normal
- Meningkatkan
program edukasi dan pencegahan untuk mencegah wabah chikungunya di masa depan
- Mengadakan
kegiatan pembersihan lingkungan
- Pemberantasan sarang nyamuk
dengan cara menghilangkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk
dengan membersihkan genangan air dan memastikan sistem drainase yang baik.
- Penggunaan kearifan lokal
yaitu menggunakan tanaman pengusir nyamuk dan praktik-praktik
tradisional yang sudah dikenal dalam budaya masyarakat.
Sumber :
https://www.ecdc.europa.eu/en/chikungunya/facts/factsheet
serayunews.com|jum’at, 12 Maret 2021

Komentar
Posting Komentar