Cerita Cikal Bakal Berdirinya Kabupaten Cilacap
Hello, Readers
Selamat datang dan berjumpa kembali di blog aku. Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca tulisanku kali ini. Di tulisan kali ini, nantinya aku akan sharing informasi tentang sejarah terbentuknya kotaku, Kabupaten Cilacap.
Walaupun kita tengah hidup di masa sekarang, bukan berarti kita tidak peduli dan tidak mau tau tentang kehidupan atau sejarah yang terjadi di masa lalu. Karena sebelum kita, tentunya ada orang-orang terdahulu yang telah berandil besar dan berjasa dalam membangun kehidupan yang ada sekarang. Sehingga sudah sepantasnya, dengan mengetahui sejarah di masa lalu dapat dijadikan sebagai teladan bagi generasi sekarang dan masa depan.
Seperti pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’, bagaimana kita bisa mencintai daerah sendiri, apabila kita tak kenal asal-usul daerahnya. Dengan kita mengenal dan mengetahui asal-usul daerah sendiri, maka akan menimbulkan rasa bangga dan semangat untuk membangun kota kelahiran. Dalam hal ini, semoga aku bisa mengajak kalian, generasi kota bercahaya pada khusunya, untuk mengenal cikal bakal terbentuknya Kota Cilacap. Dengan harapan, semoga dapat turut mewujudkan empat pilar bangga bangun desa Kabupaten Cilacap dan menumbuhkan rasa bangga sebagai bagian dari masyarakatnya.
Tak kenal, Maka kenalan…
Yuk bersama aku di blog kali ini, kita akan mengetahui asal-usul berdirinya Kota Cilacap.
Hutan Donan sebagai Cikal Bakal Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, kabupaten ini merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Jawa Tengah. Kabupaten Cilacap berbatasan dengan Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, dan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (sebelah utara), Kabupaten Kebumen di Timur, dan Samudera Hindia di Selatan, serta Kabupaten Ciamis, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Pangandaran di sebelah barat. Cilacap dijuluki sebagai kota wijayakusuma karena kembang ini hanya ada dan tumbuh di Cilacap saja dan memiliki semboyan ‘Cilacap Bercahaya’. Banyak yang tidak mengetahui makna dari kata ‘Bercahaya’ tersebut. Kata ‘Bercahaya’ diartikan sebagai penjabaran dari “Bersih, Elok, Rapi, Ceria, Hijau, Aman, dan Jaya”.
- Asal-Usul Nama Cilacap
Nama Cilacap mungkin tidak asing bagi warga negara Indonesia. Kota yang identik dengan kilang minyak terbesar se-Asia Tenggara dan pulau nusakambanganna dengan lapas paling seram dan terketat didunia setelah penjara Alcatraz (penjara paling menyeramkan di dunia). Meskipun nama Cilacap sudah dikenal, masih banyak yang belum tahu arti dan asal-usul kata Cilacap, bahkan warga Cilacap sekalipun.
Berdasarkan sumber wacana, resensi buku Mr. W. de Wolf van Westerrode, Asisten Residen Purwokerto (1896-1900) dari karya Veth yang berjudul ‘Java, Geographisch, Ethnologisch, Historisch’ mencatat bahwa penulisan ‘Cilacap’ seringkali disalah tafsirkan sebagai kata yang berasal dari bahasa Sunda yaitu ‘ci’ yang berari air dan ‘lacap’ yang berarti tanah lancip yang menjorok ke laut. Dalam buku tersebut menyatakan kata ‘Cilacap’ berasal dari perubahan ucapan (metathesis) kata ‘Tjlacap’ yang artinya sudut atau titik lancip. Hal itu, tidak lain karena kota ini berwujud paku tajam dan meruncing/menyudut di selatan lautan Pulau Jawa. Nama ‘Tjlacap’ kemudian berubah menjadi ‘Cilacap’
- Berdirinya Kabupaten Cilacap
Sejarah terbentuknya Kabupaten Cilacap terbagi menjadi dua masa, yaitu zaman kuno (zaman kerajaan-kerajaan) dan zaman kolonialisme (masa penjajahan Belanda). Penelusuran sejarah berdirinya Kabupaten Cilacap tidak bisa lepas dari sejarah pada zaman kerajaan-kerajaan hingga masa pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Namun, karena terbatasnya sumber pustaka, pada penulisan kali ini hanya dibatasi, berangkat dari lingkup masa kejayaan Kadipaten Dayeuhluhur.
Kejayaan Kadipaten Dayeuhluhur berlangsung sangat lama, yakni berkisar 356 tahun (1475 – 1831). Akhir dari kejayaan Kadipaten Dayeuhluhur tersebut karena dibubarkan oleh Pemerintah Belanda. Alasan dibubarkan pun tidak lain karena dianggap membantu pasukan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda kala itu. Akhirnya Kadipaten Dayeuhluhur dimasukkan menjadi bagian dari Kadipaten Banyumas.
Pada tahun 1838 M, Raden Tumenggung Tjakrawerdana I, Bupati Kasepuhan Banyumas, berencana membuka hutan Donan untuk dijadikan sebagai pemukiman rakyat. Ia kemudian mengutus Putranya, Raden Bei Tjakradimeja dengan ditemani oleh seorang sesepuh Kadipaten Banyumas, yakni Kyai Singawedana yang memiliki kesaktian tinggi guna menjaga sang Putra Bupati. Tidak hanya ditemani oleh Kyai Singawedana, tetapi juga Raden Bei Tjakradimeja ditemani oleh Ki Singayudha dan Ki Dipayudha.
Rombongan tersebut berangkat pada pagi hari dari Pendapa Kabupaten Banyumas menuju kawasan pesisir selatan letak dimana kawasan hutan Donan berada. Ketika sampai di Teluk Penyu, mereka mengambil waktu untuk istirahat sembari memikirkan cara untuk menebang hutan Donan yang terkenal sangat lebat dan menyeramkan.
Penebangan hutan Donan nantinya akan dibantu oleh warga setempat serta meminta izin terlebih dahulu kepada sesepuh yang menjadi juru kunci kawasan hutan Donan mengingat bahwa hutan tersebut sangat berbahaya dan angker. Banyak makhluk halus yang senang mengganggu manusia. Lantas sesepuh tersebut menyarankan supaya Raden Bei Tjakradimeja beserta rombongan untuk bertapa terlebih dahulu di Goa Nagaraja (tempat ini sekarang berada di Bukit Srandil).
Sesampainya di Goa Nagaraja, Raden Bei Tjakradimeja dan Kyai Singawedana melangsungkan ritual bertapanya. Sedangkan Kyai Singayudha dan Kyai Dipayudha bertugas untuk menjaga diluar goa. Dari hasil bertapa tersebut, didapatilah sebuah benda pusaka berwujud keris kecil pemberian seorang kakek tua bernama Ki Sengarabumi.
Pagi harinya, rombongan menuju kawasan Hutan Donan. Sehari sebelum ditebang, tepat pada malam harinya, Raden Bei Tjakradimeja, rombongan, beserta masyawakat desa berdoa bersama memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hingga tibalah hari dimana Hutan Donan akan dibuka dan penebangan hutan pun akan dilakukan yakni pada hari Senin Paing tanggal 22 Sapar 1775 atau 1 Januari 1839 M. Penebangan hutan tersebut dipimpin oleh Putra Bupati Banyumas yang tidak lain adalah Raden Bei Tjakradimeja. Dimulai dengan menancapkan keris pemberian Ki Sengarabumi dari Goa Nagaraja. Setelah ditancapkan, sontak saja suasana hutan menjadi riuh oleh suara teriak minta tolong kesakitan. Suara-suara tersebut bukan dari warga setempat, melainkan berasal dari suara para makhluk halus (jin dan setan penghuni kawasan tersebut) yang merasa kepanasan akibat daya keris yang kuat untuk menangkal mereka.
Setelah suasana tenang, penebangan Hutan Donan pun dimulai. Setelah penebangan hutan selesai, banyak warga yang kemudian mulai membangun tempat hunian di lahan baru tersebut. Hingga akhirnya kawasan yang tadinya berupa hutan telah beralih menjadi pemukiman warga. Kawasan pemukiman tersebut lah yang nantinya sebagai cikal bakal lahirnya Kota Cilacap.
Lambat laun, kawasan hutan Donan yang telah menjelma menjadi daerah pemukiman kian berkembang. Karena potensialnya, menjadikan kawasan pesisir selatan tersebut dilirik oleh pihak Kompeni Belanda. Hingga pada masa Residen Banyumas ke-9, pemerintah Belanda mengajukan usul pembentukan Kadipaten Cilacap kepada Menteri Hindia Belanda. Usul tersebut pun kemudian disetujui oleh Raja Belanda dalam Kabinet Sreseript Van tanggal 29 Desember 1855 dan Surat Rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A yang disampaikan kepada Gubernur Hindia Belanda.
Setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial, Pemerintah Hindia Belanda dengan Besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 yang menetapkan bahwa Onder Regentschap Cilacap (Kadipaten Cilacap) ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten) Cilacap.
Pada tanggal 6 Juli 1856, Pemerintah Hindia Belanda mengangkat Raden Bei Tjakradimeja sebagai Bupati Cilacap yang pertama. Setelah menjabat menjadi Bupati, Raden Bei Tjakradimeja mengubah namanya menjadi Raden Tumenggung Tjakrawerdana II (nama diambil menggunakan nama ayahnya). Raden Tumenggung Tjakrawerdana II memerintah Kabupaten Cilacap sejak tanggal 6 Juli 1856 hingga 1 Januari 1873 (menjabat selama 17 tahun). Sumber : Humas Pemda Kabupaten Cilacap, 2018
Komentar
Posting Komentar